1. Variasi suara
Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dan tinggi
menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat.Suarang guru pada saat menjelaskan
materi pelajaran hendaknya bervariasi, baik dalam intonasi, volume, nada dan
kecepatan. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras, justru
akan sulit diterima, karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam, bila
sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas, ketakutan selama belajar.
Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas, apalagi yang duduknya dideretan belakang. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya, perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti, kadang meninggi, kadang cepat, kadang lambat, kadang rendah (pelan).
Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas, apalagi yang duduknya dideretan belakang. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya, perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti, kadang meninggi, kadang cepat, kadang lambat, kadang rendah (pelan).
Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasa sekalipun,
gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting, gunakan kalimat
pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat.
Lagu bicara atau intonasi suara mempunyai pengaruh pada daya tangkap siswa
terhadap pembicaraan guru. Lagu bicara yang datar (monoton) akan membosankan
siswa, sehingga siswa cepat lelah dalam mendengarkan. Demikian pula lagu bicara
yang naik turun atau bersendat-sendat. Hal seperti ini sering menjadi bahan
tertawaan siswa dan cenderung ditirukan dengan maksud mengejek, akibatnya
konsentrasi mereka rusak. Disini juga menganjurkan adanya tekanan bicara, yang
mana diberikan pada hal-hal yang penting, misalnya dalam menyebutkan definisi,
istilah, nama, rumus, dan kata-kata asing dengan ucapan pelan-pelan dan jelas
dengan volume suara yang cukup. Kelancaran bicara juga patut diperhatikan
karena mempunyai pengaruh yang besar pada daya tangkap siswa. Jadi, seyogyanya
sebelum satu kalimat dikeluarkan atau dibicarakan lebih dulu difikirkan susunan
yang benar ditinjau dari segi tata bahasa. Ucapan bahasa daerah sebaiknya tidak
dipergunakan.
Setelah membaca uraian diatas kita tahu betapa pentingnya suara guru untuk
diperhatikan, karena merupakan alat komunikasi yang penting dalam interaksi
edukatif, memang berbicara didepan kelas tidak dapat disamakan dengan orang
yang berpidato didepan masa dan orang yang membaca puisi, karena guru
menganggap siswa itu sebagai lawan bicara. Sehingga terlibat kontak batiniah
masing-masing individu.
2. Pemusatan perhatian
Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa
itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan
obyek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai
perhatian terhadap bahan yang diajarinya, jika materi yang disampaikan oleh
guru iru tidak menjadi perhatian siswa, maka bisa menimbulkan kebosanan,
sehingga tidak lagi suka belajar. Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu
aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan atau memberikan peringatan
dengan bentuk kata-kata. Misalnya : “Perhatikan baik-baik”, “Jangan lupa ini
dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya. Memang menarik perhatian siswa
itu sangatlah tidak mudah apalagi dalam jumlah siswa yang banyak, agar
perhatian itu tetap ada perlu adanya prinsip-prinsip yakni :
a. Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru, jenis
rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna dan bentuk. Dalam
pelajaran, seorang guru dapat menarik perhatian tentang kata-kata penting pada
suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris bawahi.
b. Perhatian seseorang tertuju atau terarah pada hal-hal yang dianggap rumit.
Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak boleh tampak terlalu
rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang sederhana dikarenakan
semata-mata untuk menarik perhatian siswa.
c. Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya, yaitu
hal-hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Untuk menimbulkan minat tersebut
ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar dirinya. Dari luar bisa saja
lingkungan, orang tua dan guru. Disini gurulah yang berhak menimbulkan atau
membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah maupun dikelas.
Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang siswanya agar
bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran, sehingga siswa
memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan perhatian siswa bisa
dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini baik-baik”, karena
materinya agak sulit dan sebagainya.
3. Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence)
Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi pihak guru
ditengah-tengah menerangkan sesuatu. Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat
yang baik untuk menarik perhatian siswa. Dengan keadaan senyap atau diamnya
guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa, sebab siswa begitu tahu
apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada
siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi
kesenyapan supaya siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin
ia hafal, sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat. Pemberian
waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap.
Tapi jika seorang guru tidak memberikan kesenyapan atau waktu kepada siswa
untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya siswa akan menjawab dengan asal
alias asal bicara, sehingga jawabannya kurang tepat dengan pertanyaan. Untuk
itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan terhadap siswa untuk memikirkan
jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya jawabannya sempurna dan tepat.
4. Kontak pandang
Ketika proses belajar mengajar berlangsung, jangan sampai guru menunduk
terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak mata dengan
para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak pandang
dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang lain.
sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan
pandangannya keseluruh kelas atau siswa, sebab menatap atau memandang mata
setiap anak didik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan
menghindari hilangnya kepribadian. Bertemunya pandang diantara mereka yang
berinteraksi, sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan
karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka.
Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya didepan kelas :
1) Melihat keluar ruang
2) Melihat kearah langit-langit
3) Melihat kearah lantai
4) Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa saja
5) Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan kecuali sambil
menunjukkan sesuatu.
Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi kelas dengan
baik. Jadi dalam kontak pandang hendaknya guru berusaha seinti mungkin agar
siswa merasa diperhatikan dan dihargai, kontak mata yang sering dilakukan, akan
membangun dan membina jalinan tingkat tinggi, yaitu mengetahui psikologi anak
atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa terhadap materi yang
telah disampaikan. Untuk itu, pandanglah siswa-siswa anda secara merata tapi
jangan berlebihan, gunanya pandangan mata, seorang guru adalah untuk menarik
perhatian dan minat belajar siswa.
5. Gerakan anggota badan atau mimic
Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, gerakan tangan dan
anggota badan lainnya adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi,
gunanya adalah untuk menarik perhatian dan untuk menyampaikan arti dari pesan
lisan yang dimaksudkan untuk memperjelas
penyampaian materi. Orang akan lebih jelas dalam memahami sesuatu menggunakan indera pendengar dan disertai indera penglihatan atau mata, semakin banyak indera yang digunakan hasilnya semakin baik. Begitu pula siswa, jika seorang guru yang mengajarnya hanya mematung dan menggunakan mulutnya saja, tanpa menggerakkan anggota badan akan memberi kesan buruk, suasana hampa dan tidak hidup, sehingga siswa cepat bosan, sebaliknya jika gerakan-gerakan guru terlalu over acting dalam memberi pengajaran juga akan berakibat buruk, disini gerakan-gerakan guru sebagian besar menjadi pusat perhatian siswa, jika gerakannya terarah, siswa merasa senang dalam mengikuti pelajaran tersebut. Jadi gerakan yang baik adalah gerakan yang efisien dan efektif artinya gerakan yang cukup, tetapi benar-benar mendukung penjelasan atau uraian guru. Gerakan-gerakan tersebut biasa dengan menganggukkan kepala untuk menunjukkan setuju, dan sebaliknya jari dan tangan berarti “tidak” dan sebagainya.
penyampaian materi. Orang akan lebih jelas dalam memahami sesuatu menggunakan indera pendengar dan disertai indera penglihatan atau mata, semakin banyak indera yang digunakan hasilnya semakin baik. Begitu pula siswa, jika seorang guru yang mengajarnya hanya mematung dan menggunakan mulutnya saja, tanpa menggerakkan anggota badan akan memberi kesan buruk, suasana hampa dan tidak hidup, sehingga siswa cepat bosan, sebaliknya jika gerakan-gerakan guru terlalu over acting dalam memberi pengajaran juga akan berakibat buruk, disini gerakan-gerakan guru sebagian besar menjadi pusat perhatian siswa, jika gerakannya terarah, siswa merasa senang dalam mengikuti pelajaran tersebut. Jadi gerakan yang baik adalah gerakan yang efisien dan efektif artinya gerakan yang cukup, tetapi benar-benar mendukung penjelasan atau uraian guru. Gerakan-gerakan tersebut biasa dengan menganggukkan kepala untuk menunjukkan setuju, dan sebaliknya jari dan tangan berarti “tidak” dan sebagainya.
Gerakan tangan menulis dipapan tulis itu juga memerlukan latihan, walaupun
kelihatan diremehkan, sekarang ini banyak guru yang tidak begitu memperhatikan
tulisannya dipapan tulis, padahal tulisannya itu kurang jelas, naik turun, hal
ini biasanya mempengaruhi kebosanan siswa.Tidak semua gerakan anggota badan itu
baik dalam arti sesuai, ada gerakan yang biasa dilakukan tapi perlu dihindari,
seperti menggaruk-garuk badan, memegang celana tanpa alasan yang benar,
menghapus atau menggosok hidung dan lain sebagainya. Jadi, suatu gerakan dalam
proses belajar mengajar yang dilakukan guru pada saat menerangkan materi, harus
relevan dengan materi yang disampaikan dan itu tidak boleh terlalu berlebihan.
Secukupnya saja, begitu juga dengan ekspresi wajah-wajah anda adalah alat
komunikasi yang kuat.
Pesan non verbal yang disampaikan melalui alis terangkat, tidak senyum,
dahi berkerut, cemberut itupun mempengaruhi siswa dalam belajar, jika selama
proses belajar mengajar berlangsung. Seorang guru memasang wajah sedih,
cemberut, siswa akan tampak ketakutan. Suasana kerasa mencekam dan tegang.
Suasana seperti ini biasa mematikan kreatifitas belajar siswa. Ide atau
keinginan yang positif menjadi kandas ditengah jalan, untuk itu sebaliknya jika
seorang guru punya masalah pribadi jangan ditampakkan didepan kelas saat mengajar.
Mungkin dengan memasang wajah yang cemberut, marah, sedih ini sangat
mempengaruhi suasana kelas, jadi, seorang guru harus pandai mengendalikan
emosinya dan jika sudah masuk, guru seharusnya memasang wajah yang penuh
semangat, ceria, dan mendukung suasana belajar yang kondusif, agar siswa
tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran yang akan disampaikannya.
6. Perpindahan posisi guru
Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat
membantu dalam menarik perhatian anak didik, dapat pula meningkatkan kepribadian
guru dan hendaklah selalu diingat oleh guru, bahwa perpindahan posisi itu
jangan dilakukan secara berlebihan. Bila dilakukan berlebihan guru akan
kelihatan terburu-buru, lakukan saja secara wajar agar siswa bias
memperhatikan.
Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang, dari sisi
kiri ke sisi kanan, atau diantara anak didik dari belakang kesamping anak
didik. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi
posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan mengelilingi siswa dan
sebagainya. Yang penting dalam perubahan posisi itu harus ada tujuannya, dan
tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah melakukan kegiatan
mengajar dengan satu posisi, misalnya saja saat menerangkan guru hanya berdiri didepan
kelas saja atau duduk dikursi saja, tanpa ada pergantian atau variasi ini bisa
menimbulkan kebosanan siswa.
Guru melakukan pergantian posisi, sebaiknya jangan kaku atau kikuk, lakukan
saja secara bebas dan wajar bisa menarik perhatian siswa, jika guru kaku dalam
bergerak ini bisa menjemukan siswa. Dan bila variasi dilakukan secara
berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi siswa
terhadap pelajaran. Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar
dan sesuaikan dengan tujuan, tidak sekedar mondar-mandir.